The Unknown History : forgotten
Di suatu masa, kegelapan yang sangat gelap namun terdapat sebuah titik yang memancarkan sinar yang sangat terang. Meskipun sangat terang, cahayanya tidak terjangkau ke daerah yang gelap. Ibarat, semakin terang cahayanya, semakin gelap pula bayangannya.
Terdapatlah 2 buah kerajaan kembar. Ibarat pinang di belah dua, serupa tetapi berbeda, berasal dari hal yang sama namun berpisah dan salah satunya menganggap saingan. Kedua kerajaan yang paling mutakhir kemajuannya di segala bidang. Meskipun kemajuannya diibaratkan cahaya pada masa-nya, bayangan pun tetap ada dan tak berubah meski sang bayangan mengetahui dan bersebelahan dengan cahaya.
kedua kerajaan tersebut adalah kerajaan Amya dan kerajaan Ash. Yang bertepatan di daerah Ravas.
2 kerajaan yang paling maju dalam segala bidang pada masanya. Rakyatnya makmur sejahtera, ilmu pengetahuan berkembang pesat, moral manusianya terjunjung tinggi, di bidang seni , sastra dan pengrajin menghasilkan karya-karya yang memukau. Namun, kesesatan akibat kefanatikan dan obsesi yang kuat mengubah kerajaan Ash jatuh dalam pusaran balas dendam. Ia merasa tersaingi dan menganggap kerajaannya sendiri, yaitu kerajaan Ash-lah yang lebih baik dibanding kerajaan Amya-pada masa itu kerajaan Amya dianggap kerajaan yang paling hebat dibanding Ash-kefanatikan yang berubah menjadi kesesatan.
Berbagai macam upaya kerajaan Ash lakukan untuk menjatuhkan kerajaan Amya. Ada yang dilakukan secara terang-terangan, ada pula yang secara sembunyi-sembunyi. Hingga akhirnya, akibat permasalahan internal dan serangan dari luar kerajaan Amya Runtuh. Semua pejabat tinggi dan keluarga kerajaan dibunuh dengan sadis, hinga tersisa-lah 2 pangeran yang berusaha melarikan diri agar tetap selamat. Naas, pangeran yang lebih muda meninggal di tangan prajurit Ash akibat janji bohong prajurit Ash.
Sang pangeran yang lebih tua pun dengan berat hati harus tetap melanjutkan pelariannya. Ia berlari hingga benua seberang, bersebelahan dengan daerah Ravas, benua Haliba. Meskipun sudah berlari hingga benua seberang, Sang pangeran tetap di kejar oleh pasukan Ash di benua Haliba. Sehingga, membuat sang pangeran harus tetap hidup secara sembunyi-sembunyi.
Hidup luntang-lantung tak jelas di benua dan daerah asing membuat sang pangeran harus bekerja berkali-kali lipat lebih keras dibanding orang lain demi sepiring makanan. Ia tak punya tempat tinggal, hidup tak jelas ditambah dia masih saja dikejar oleh prajurit Ash meski sudah di benua yang berbeda, hingga akhirnya ia bertemu sebuah keluarga, keluarga tersebut menawarkan tempat tinggal dan tempat bersembunyi sementara untuk si pangeran. Si pangeran sangat berterima kasih kepada keluarga dermawan tersebut.
Perburuan terhadap sang pangeran oleh prajurit Ash di benua Haliba semakin gencar. Prajurit Ash tidak ragu untuk menghancurkan bangunan penduduk Haliba dan menyerang orang tak bersalah demi menemukan sang pangeran. Akhirnya, demi keamanan sang keluarga asuh pangeran, si pangeran memutuskan untuk pergi dari benua Haliba. Ia pergi menuju benua Elli.
Tepat di daerah Pan, benua Elli, sang pangeran menghentikan pelariannya. Prajurit Ash pun sudah tidak mengikutinya, mereka mengira sang pangeran sudah meninggal dikarenakan sang pangeran pernah terlibat pertarungan dengan prajurit Ash di benua Haliba yang berakhir dengan kekalahan pangeran.
Sang pangeran yang berhasil kabur berakhir tinggal di daerah Pan, hidup bermasyarakat bersama penduduk sekitar. Kehidupan keras selama pelarian membentuk mental sang pangeran yang dulu biasanya dimanja sekarang menjadi pribadi yang disegani banyak orang serta penduduk sekitar. Sang pangeran beserta beberapa kawannya menjadi pribadi yang sangat berpengaruh di daerah Pan. Mengubah daerah yang biasa saja menjadi pusat peradaban di benua Elli. Benua dimana bayangan tidak tersentuh cahaya.
Kepribadian sang pangeran yang dihormati semua rakyat Pan, pengaruh sang pangeran yang membawa kemajuan daerah Pan semakin nyata, hingga akhirnya berdirilah sebuah kerajaan Fos. Seakan ingin mengembalikan kejayaan Amya, sang pangeran membuat suatu titik yang sangat terang diantara kegelapan benua Elli. Berbagai kemajuan di daerah Pan, Kesejahteraan dan kemakmuran rakyat, kemajuan karya seni, teknologi, sastra dan pengrajin yang menghasilkan berbagai macam bentuk karya seni yang kompleks dan memukau penuh makna. Dan yang paling menonjol dari kemajuan kerajaan Fos ini adalah ilmu pengetahuannya. Salah satunya di bidang filsafat, yang paling dikagumi oleh bangsa lain di benua Elli selain daerah Pan. Kemajuan peradaban Fos sangat dikagumi oleh semua kalangan masyarakat, terutama di benua Elli. Seluruh kalangan masyarakat berkiblat kepada peradaban Fos, Mulai dari gaya pakaian, gaya bahasa, pola asuh masyarakat, bangunan, sistem kenegaraan, perekonomian, hingga makanan dan minumannya.
Karena kehebatan ilmu pengetahuan kerajaan Fos diantara daerah lain di benua Elli, banyak pemuda ataupun yang sudah tua menuntut ilmu di akademi kerajaan Fos. Mereka membawa pulang pemikiran-pemikiran brilian peradaban Fos ke daerah mereka. Ditambah dukungan dari orang-orang di kerajaan Fos, kedua belah pihak mendirikan akademi-akademi di daerah lain dengan harapan penduduk daerah sekitar Fos tidak lagi terancam dalam kesesatan dan kebodohan.
Bertahun-tahun, berabad-abad kerajaan Fos berdiri di benua Elli memberikan pengaruh yang sangat besar di kalangan masyarakat sekitar. Banyak muncul cendekiawan-cendekiawan di daerah selain Pan yang mulai berpengaruh di daerahnya masing-masing. Masing-masing dari mereka mengangkat orang-orang terdahulu yang mengungkapkan fakta yang sebenarnya atas suatu peristiwa ataupun benda ketika kala itu orang berpaling karena kebodohan. Salah satu filsuf guru besar peradaban Fos yang menjadi kiblat para pemikir benua Elli, ia adalah Dhyrus
Sayangnya, peradaban kerajaan Fos tidak selamanya. Berabad-abad sudah masa kejayaannya. Akibat perpecahan internal dan moral rakyat dan pejabatnya yang jatuh, kerajaan ini rentan di serang kerajaan lain yang memang sudah lama mengincarnya. Ketika kala itu tidak ada pemimpin dan pejabat yang mumpuni mengurus pemerintahan ditambah rakyatnya yang terbutakan oleh tipu muslihat, kerajaan Fos akhirnya runtuh. Kerajaan lain di benua Elli yang dekat dengan daerah Pan menyerbu langsung dan membantai hingga tak tersisa peradaban Fos yang gemilang. Pembantaian dan penjarahan merebak dimana-mana. Nyawa manusia sudah tidak ada harganya lagi. Semua karya-karya ilmu pengetahuan di bumi hanguskan, ada beberapa bahkan dicuri oleh orang-orang maupaun dari kaum cendekiawan daerah lain. Mereka mengaku-ngaku atas penemuannya yang sebenarnya adalah ia curi dari cendikiawan-cendikiawan Fos. Peradaban Fos ibarat hilang ditelan bumi. Semua jasanya tak lagi tersisa dan dihargai.
Meskipun Hilang bagai ditelan bumi, pemikiran para filsuf Fos yang mempengaruhi seantero benua Elli masih tetap hidup. Salah satu pemikiran yang membawa revolusi Elli ke arah pemikiran Diaz yang digaung-gaungkan para kaum Loma.
Ditengah majunya ilmu pengetahuan bangsa Elli tentu ada saja pihak yang dirugikan. Mereka ialah pihak yang menggaung-gaungkan kesesatan fanatisme diatas kenyataan, seakan menutup mata mereka akan cahaya dan mengatakan bahwa pemikiran-pemikiran yang seperti peradaban Fos adalah sebuah ancaman kesesatan yang nyata. Mereka adalah kaum Iget. Mereka memiliki kekuasaan dan massa yang banyak, sehingga fitnah pun banyak terjadi saat itu pula.
Tidak semua kaum Iget jatuh dalam fitnah yang dilontarkan kaum Iget lain, tak sedikit juga diantara kaum Iget yang merupakan cendekiawan ternama di benua tersebut lebih mendukung pemikiran-pemikiran peradaban Fos. Mereka merasa bahwa kaum Iget yang melontarkan fitnah tersebutlah yang justru sudah melenceng dari kiblat yang sebenarnya. Akhirnya, beberapa kaum Iget yang terkena pemikiran-pemikiran Fos membangun suatu kaum baru yang disebut, kaum Fore.
Sementara, Cendekiawan lain yang merupakan kaum Iget maupun bukan, mereka membangun suatu kaum yang baru juga, yang disebut kaum Loma. Kaum Loma bertindak bukannya membimbing kesesatan kaum Iget ke jalan yang benar malah membuat pemisahan. Pemisahan yang dianggap suatu kesetujuan yang sebenarnya adalah kenistaan. Kaum Loma memiliki akal pemikiran yang hebat, namun tanpa arah. Seakan tak jelas mereka berada dimana. Tak ada kiblat. Suatu solusi dengan pengambilan jalan tengah yang nyatanya jalan tengah itu sendiri tidak ada.



Komentar
Posting Komentar